A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan Anda dapat:
1. Mengidentifikasi susunan sel Volta dan prinsip kerja sel volta
2. Menghitung potensial sel berdasarkan data potensial standar
B. Uraian Materi
Pada prinsipnya reaksi redoks spontan dapat digunakan sebagai sumber listrik. Reaksi redoks spontan merupakan reaksi redoks yang dapat berlangsung dengan sendirinya. Jika kedalam larutan CuSO4 dicelupkan logam seng maka akan terjadi reaksi redoks yang spontan. Secara makrokospis terlihat larutan CuSO4 yang berwarna biru semakin memudar seiring dengan terbentuknya lapisan hitam pada permukaan seng. Apakah kalian tahu bagaimana prosesnya?
Gambar 1. Reaksi logam seng dengan larutan CuSO4 berlangsung spontan (Sumber : Chemistry_McMurry,2012)
Secara mikroskopis proses reaksi dapat diilustrasikan seperti gambar, seng secara spontan mengalami oksidasi menjadi Zn2+ yang masuk ke dalam larutan. Pada permukaan tembaga terjadi reduksi, elektron yang terlepas ditangkap Cu2+ dari larutan, sehingga terbentuk endapan dari tembaga. Reaksi:
Oksidasi
(a) Zn(s) → Zn2+(aq) + 2e-
Reduksi
(b) Cu2+(aq) + 2e- → Cu(s)
Tentu kalian ada yang bertanya, bagaimana cara membuat rangkaian yang dapat mengubah reaksi redoks spontan menjadi energi listrik? Bagaimana susunan selnya? Yuk, simak diskusi kita tentang sel Volta.
1. Prinsip kerja sel Volta
Sel volta adalah sel elektrokimia dimana energi kimia dari reaksi redoks spontan diubah menjadi energi listrik.
Contoh rangkaian sel volta terdiri dari logam Zn dicelupkan dalam larutan ion Zn2+ dan logam Cu dicelupkan dalam larutan ion Cu2+ .
Gambar 2. Diagram sel Volta dan bagian-bagiannya
(Sumber : sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/)
Elektroda di mana reaksi oksidasi terjadi disebut anoda. Adapun elektroda di mana reaksi reduksi terjadi disebut katoda. Pada sel Volta anoda bermuatan negatif dan katoda bermuatan positip. Elektron mengalir dari anoda menuju katoda. Reaksi yang terjadi:
Anoda Zn(s) → Zn2+(aq) + 2e-
Katoda Cu2+(aq) + 2e- → Cu(s)
Reaksi sel Zn(s) + Cu2+(aq) → Zn2+(aq) + Cu(s) , E0 sel = 1,10 Volt
Jadi prinsip kerja dari sel volta adalah pemisahan reaksi redoks menjadi 2 bagian, yaitu setengah reaksi oksidasi di anoda dan setengah reaksi reduksi di katoda. Anoda dan katoda dicelupkan dalam elektrolit dan dihubungkan dengan jembatan garam dan sirkuit luar.
Susunan sel Volta pada gambar diatas dapat dinyatakan dengan notasi singkat yang disebut notasi sel, yaitu:
Reaksi di Anoda Reaksi di Katoda
Contoh soal
1. Jika gas klorin dimasukkan dalam larutan NaBr, akan terjadi reaksi spontan dan terbentuk ion klorin dan larutan bromin.
a. Gambarkan diagram sel volta, dan berilah keterangan anoda, katoda dan aliran elektronnya
b. Tuliskan setengah reaksi oksidasi dan reduksi serta reaksi sel
c. Tuliskan notasi sel
Jawab
a. Diagram sel volta dan kreterangan baghian-bagiannya:

b. Setengah reaksi oksidasi dan reduksi
Anoda 2 Br-(saq → Br2 (g) + 2e- (oksidasi)
Katoda Cl2 (g) + 2e- → 2 Cl-(saq (reduksi)
Reaksi sel 2 Br-(saq + Cl2 (g) → Br2 (g) + 2 Cl-(saq
c. Lihat gambar, baik dikatoda ataupun anoda menggunakan elektrode Pt, maka notasi sel dituliskan :
Pt/Br2, Br- // Cl-,Cl2/Pt
2. Potensial Sel
Potensial elektroda yang dibandingkan dengan elektroda hidrogen yang diukur pada suhu 25 oC dan tekanan 1 atm disebut potensial elektroda standar (Eo).
Potensial elektroda tersebut mengacu pada reaksi reduksi elektroda sehingga disebut potensial reduksi standart (E0 reduksi).
Potensial sel volta dapat ditentukan melalui eksperimen dengan menggunakan voltmeter atau dihitung berdasarkan data potensial elektroda standar.
- Unsur yang mempunyai Eo reduksi lebih besar mengalami reaksi reduksi di katoda
- Unsur yang mempunyai Eo reduksi lebih kecil mengalami reaksi oksidasi di anoda
Menurut Masterton, Hurley (2011), besarnya Eo sel dirumuskan:
Tabel 1. Potensial Reduksi Standar pada Suhu 25 o;C
(Sumber : Chemistry_McMurry,2012)
3. Deret Volta
Unsur-unsur yang disusun berdasarkan urutan potensial elektroda standar membentuk deret yang dikenal sebagai deret keaktifan logam atau deret Volta.
Gambar 3. Deret keaktifan logam
(Sumber : Pustekkom, 2015)
Semakin ke kanan sifat oksidator makin kuat (mudah tereduksi) dan semakin ke kiri sifat reduktor semakin kuat (mudah teroksidasi).
Jadi logam sebelah kiri dapat mendesak (bereaksi, mereduksi) ion logam sebelah kanan, logam Mg dapat mendesak Zn2+, sehingga Mg dapat bereaksi dengan larutan ZnSO4, tetapi Mg tidak dapat bereaksi dengan Na+ sebab Mg terletak disebelah kanan Na.
A.Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini Anda diharapkan dapat:
1. Memahami sel volta dalam kehidupan sehari hari
2. Mengajukan rancangan sel volta menggunakan bahan di sekitar
B. Uraian Materi
1. Sel Volta Dalam Kehidupan Sehari-hari
a. Baterai kering (sel Leclanche)
Sel baterai merupakan pengembangan dari sel Leclanche (1839-1882), dengan desain awal yang tetap dipertahankan, yakni sel kering mangan. Sel kering mangan terdiri dari 3 komponen utama yaitu bungkus dalam zink (Zn) sebagai elektroda negatif (anoda), batang karbon (C) sebagai elektroda positif (katoda) dan pasta MnO2 dan NH4Cl yang berperan sebagai elektrolit.
Baterai ini banyak digunakan untuk senter, radio, dan mainan. Potensial sel sebesar 1,5 V dan menurun sejalan dengan lama pemakaian. Sel Leclanche tidak dapat diisi ulang sehingga disebut sel primer
Gambar 4. Komponen Sel Kering
(Sumber: Masterton, Hurley,2011)
Pada sel kering, reaksi oksidasi terjadi pada logam seng dan reaksi reduksi terjadi pada karbon yang inert. Elektrolitnya adalah pasta MnO2, ZnCl2, NHCl dan karbon hitam. Reaksi:
Anoda Zn(s) ----> Zn2+(aq) + 2e-
Sel Zn(s) + 2MnO2(s) + 2NH4+(aq) ------> Zn2+(aq) + Mn2O3(s) + 2NH3(aq) + H2O(l)
b. Sel Aki
Aki merupakan sel Volta yang banyak digunakan dalam kendaraan bermotor. Sel aki dapat diisi ulang kembali sehingga disebut sel sekunder. Aki disusun dari lempeng timbal (Pb) dan timbal oksida (PbO2) yang dicelupkan dalam larutan
asam sulfat (H2SO4). Apabila aki memberikan arus maka lempeng timbal bertindak sebagai anoda dan lempeng timbal dioksida (PbO2) sebagai katoda.
Reaksi pemakaian aki
Katoda PbO2(s) + 4H+(aq) + SO42-(aq) + 2e- PbSO4(s) + 2H2O(l)
Reaksi sel Pb(s) + PbO2(s) + 4H+(aq) + 2SO42-(aq) 2PbSO4(s) + 2H2O(l)
Gambar 5. Komponen Sel Accu
(Sumber: Masterton, Hurley,2011)
Pada kedua elektrode terbentuk timbal sulfat (PbSO4). Apabila keping tertutup oleh PbSO4 dan elektrolitnya telah diencerkan oleh air yang dihasilkan, maka sel akan menjadi kosong. Untuk mengisi kembali, maka elektron harus dialirkan dalam arah yang berlawanan menggunakan sumber listrik dari luar.
2. Merancang Sel Volta dari Bahan Sekitar Baterai garam dapur (NaCl)
Baterai garam dapur adalah contoh aplikasi sel volta paling sederhana. Dari sudut pandang engineering, jika dua jenis logam yang berbeda dimasukkan dalam larutan elektrolit maka akan didapatkan baterai.
Bahan yang digunakan : larutan 2 sendok makan garam per 200 cc air, lempengan seng bisa menggunakan kaleng bekas minuman sebagai anoda bermuatan negatif, sil karet untuk membatasi kedua lepengan agar tidak bersentuhan, lempengan tembaga sebagai katoda bermuatan positif, kipas angin atau lampu led untuk menguji keberadaan daya listrik searah (DC) dan kabel kecil yang diberi penjepit buaya tiap ujungnya
Hasil percobaan menunjukkan satu sel baterai NaCl menghasilkan tegangan 0,34 Volt. Setelah beberapa saat pemakaian, teramati terbentuknya lapisan hitam pada elektroda seng.
Gambar 6. Uji terbatas sel Volta
dari garam dapur Reaksi redoks yang terjadi:
Anoda Zn + 4OH– → Zn(OH)4 2– + 2e
Katoda O2 + 2H2O + 4e – → 4OH–
Reaksi sel 2 Zn + 8OH– + O2 + 2H2O → 2Zn(OH)4 2– + 4OH–
Berdasarkan percobaan sederhana ini dapat dipahami mengapa sel ini disebut baterai seng udara. Karena, oksigen dari udara bereaksi dengan seng, sedangkan elektroda tembaga hanya berfungsi mengalirkan elektron.









